Suatu hari yang sangat melelahkan, dimana hari ini aku masih berjalan dengan membawa harapanku yang seharusnya sudah ku simpan baik-baik di dalam hati. Cuaca siang ini panas lalu sorenya hujan deras, entahlah seakan langitpun mengerti suasana hatiku yang kacau.
Aku memayungi diriku sendiri, berlindung dari derasnya air hujan yang membasahi tubuhku. Di sepanjang jalan orang-orangpun sibuk mencari tempat berteduh. Karena ingin cepat pulang, aku memaksakan untuk tetap melawan hujan menuju pemberhentian angkutan umum yang biasa mengantarku pulang.
Bukan sengaja aku memilih tempat duduk persis di belakang bangku supir, tetapi memang karena mobilnya sudah penuh. Dengan posisi tempat duduk seperti itu akupun sedikit memiringkan badanku sehingga aku bisa melihat hujan diluar.
Mungkin ini kata orang-orang yang dinamakan GALAU, iya memang aku GALAU, aku merasa lelah dengan harapan-harapan kosongku selama ini. Ini bodoh, tetapi aku tidak bisa menghindari kebodohanku karena cinta pada seorang laki-laki yang sudah jelas tidak membalas perasaanku padanya.
Seketika aku lihat di jendela mobil embun yang menguap karena hujan, dan dengan refleks aku menuliskan namaku dan namamu di jendela yang berembun itu dengan jariku. Ada rasa senang melihat tulisan di jendela mobil itu sehingga aku tersenyum kecil.
Lama-kelamaan tulisan namaku dan namamu memudar, tidak tahan lama dan semakin tidak terlihat lagi, lalu aku tergugah dari lamunanku bahwa aku dan kamu memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Seperti tulisan yang memudar, seperti itu pula hubungan aku dan kamu. Senyumanku berubah menjadi senyum kecut karena aku sadar, aku dan kamu tidak akan pernah menjadi KITA. KITA seperti tulisan nama di jendela mobil itu. :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar